PRESENTASE
Nama :
Rani. A. Simbolon
Semester :
V (Lima)
Dosen
: Dr. Uli S.Nainggolan M.Th
Mata Kuliah : Pengembangan Kurikulum PAK
DESAIN
KURIKULUM.
A.
Pengertian Desain Kurikulum
Desain adalah rancangan, pola, atau model. Mendesain kurikulum
berarti menyusun rancangan atau model kurikulum sesuai dengan misi dan visi
sekolah. Tugas dan peran seseorang desainer kurikulum menentukan
bahan dan cara mengembangkan kurikulum yang baru sesuai dengan kondisi
lingkungan pendidikan. Beberapa ahli merumuskan macam - macam desain kurikulum
:
1.
Eisner
danVallance (1974) membagi desain menjadi lima jenis yaitu model pengembangan
proses kognitif, kurikulum sebagai teknologi, kurikulum aktualisasi diri,
kurikulum rekonstruksi sosial, dan kurikulum rasionalisasi akademis.
2.
McNeil (1977)
membagi desain kurikulum menjadi empat model yaitu model kurikulum humanistis,
kurikulum rekonstruksi sosial, kurikulum teknologi, dan kurikulum subjek
akademik.
3.
Saylor Alexander
dan Lewis (1981), membagi kurikulum menjadi kurikulum
subject matter disiplin, kompetensi yang bersifat spesifik atau
kurikulum teknologi, kurikulum sebagai proses, kurikulum sebagai fungsi sosial
dan kurikulum yangberdasarkan minat individu.
4.
Brennan (1985)
mengembangkan tiga jenis model desain kurikulum, yaitu kurikulum yang
berorientasi pada tujuan, model proses, dan model kurikulum yang didasarkan
kepada analisis situasional.
5.
Longstreet dan
Shane (1993)membagi desain kurikulum menjadi empat model yaitu desain kurikulum
yang berorientasi pada masyarakat, desain kurikulum yang berorientasi pada
anak, desain yang berorientasi pada pengetahuan, dan desain kurikulum yang
bersifat eklektik.
B. Desain Kurikulum
Displin Ilmu
Menurut para ahli desain kurikulum disiplin ilmu :
1. Menurut Longstreet
( 1993 ) desain kurikulum ini merupakan desain kurikulum yang berpusat pada
pengetahuan yang dirancang berdasarkan struktur displin ilmu, oleh karena
itu model desain ini dinamakan juga model kurikulum subjek akademis yang
penekanannya diarahkan untuk pengembangan intelektual siswa
2. Menurut McNeil (
1990 ) desain kurikulum ini berfungsi untuk mengembangkan proses
kognitif atau pengembangan kemampuan berfikir
siswa melalui latihan menggunakan gagasan dan melakukan proses penelitian
ilmiah. Model kurikulum yang berorientasi pada pengembangan intelektual siswa,
dikembangkan oleh para ahli mata pelajaran sesuai dengan disiplin ilmu
masing-masing. Mereka menyusun materi pembelajaran apa yang harus dikuasai oleh
siswa baik yang menyangkut data dan fakta, konsep maupun teori yang ada dalam
setiap disiplin ilmu mereka masing-masing.
Salah satu kurikulum yang berorientasi pada disiplin
ilmu atau disebut juga kurikulum subjek akademis adalah Man a Course of
Study ( MACOS ), yang dirancang untuk memperbaiki proses
perbaikan pengajaran ilmu - ilmu sosial dan humanistis. Kurikulum ini
diperuntukkan untuk siswa - siswa sekolah dasar. Dalam paket kurikulum itu
terdiri dari buku, film, poster, permainan dan perlengkapan kelas lainnya.
Pengembangan kurikulum mengharapkan siswa dapat menggali faktor -
faktor penting yang menjadikan manusia sebagai manusia.
Melalui perbandingan dengan binatang, anak menyadari
akan kemanusiannya. Dengan membandingkan suatu masyarakat dengan masyarakat
lainnya anak akan memahami adanya aspek universal dari kebudayaan manusia.
Tujuan utama kurikulum MACOS adalah perkembangan intelektual yaitu
membangkitkan penghargaan dan keyakinan akan kemampuan sendiri dengan
memberikan serangkaian cara kerja yang memungkinkan anak mampu menganalisis
kehidupan sosial walaupun dengan cara yang sederhana. Terdapat tiga bentuk
organisasi kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu, yaitu:
1. Subject centered curriculum
Pada subject centered curriculum, bahan
atau isi kurikulum disusun dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah - pisah,
misalnya: mata pelajaran sejarah, matematika, kimia, fisika, biologi dan
sebagainya. Mata pelajaran - mata pelajaran itu tidak berhubungan satu sama
lain. Pada pengembangan kurikulum didalam kelas atau pada kebiasaan belajar
mengajar, setiap guru hanya bertanggung jawab pada satu mata pelajaran yang
diberikannya.
2. Correlated Curriculum
Mata pelajaran tidak disajikan secara terpisah, tapi
mata pelajaran ini memiliki kedekatan/dikelompokkan sehingga menjadi suatu
bidang studi (broadfield). Mengorelasikan bahan atau isi materi kurikulum
dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu:
a.
Pendekatan structural,
dalam pendekatan ini
kajian atau pokok bahasan ditinjau dari beberapa mata
pelajaran sejenis misalnya, kajian suatu topik tentang geografi,
tidak semata-mata ditinjau dari sudut geografi saja, akan tetapi juga
ditinjau dari sejarah, ekonomi atau mungkin budaya.
b.
Pendekatan
fungsional
pendekatan ini didasarkan pada pengkajian masalah yang
berarti dalam kehidupan sehari - hari. Dengan demikian, suatu topik tidak
diambil dari mata pelajaran tertentu tetapi diambil dari apa yang dirasakan
perlu untuk anak, selanjutnya topik itu dikaji pada beberapa mata pelajaran
yang memiliki keterkaitan contohnyamasalah kemiskinan ditinjau dari sudut
ekonomi, geografi, dan sejarah.
c.
Pendekatan
daerah
pada pendekatan ini materi pelajaran ditentukan
berdasarkan lokasi atau tempat, seperti mengkaji daerah ibu kota ditinjau dari
keadaan iklim, sejarah, sosialbudaya, ekonomi dan lain sebagainya.
3. Integrated Curriculum
Pada organisasi kurikulum yang menggunakan model
integrated tidak lagi menampakkan nama - nama mata pelajaran atau bidang studi.
Belajar berangkat dari suatu pokok masalah yang harus dipecahkan. Masalah
tersebut kemudian dinamakan unit. Belajar berdasarkan unit bukan hanya
menghafal sejumlah fakta, akan tetapi juga mencari dan menganalisis fakta
sebagai bahan untuk memecahkan masalah. Belajar melalui pemecahan masalah itu
diharapkan perkembangan siswa tidak hanya terjadi pada segi intelektual saja
tetapi seluruh aspek seperti sikap, emosi atau keterampilan.
C. Desain Kurikulum
Berorientasi pada Masyarakat
Rancangan kurikulum yang berorientasi pada masyarakat
didasari oleh asumsi bahwa tujuan dari sekolah adalah untuk melayani
masyarakat. Oleh karena itu, kebutuhan masyarakat harus dijadikan dasar dalam
menentukan isi kurikulum. Ada 3 perspektif desain kurikulum yang berorientasi
pada kehidupan masyarakat, yaitu:
1.
Perspektive Status Quo
Rancangan kurikulum ini diarahkan untuk melestarikan
nilai-nilai budaya masyarakat. Dalam perspektif ini, kurikulum merupakan
perencanaan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada anak didik
sebagai persiapan menjadi orang dewasa yang dibutuhkan dalam kehidupan
masyarakat. Yang dijadikan dasar oleh para perancang kurikulum adalah
aspek-aspek penting kehidupan masyarakat. Kegiatan-kegiatan utama dalam
masyarakat yang disarankan untuk menjadi isi kurikulum adalah sebagai berikut:
a.
Kegiatan bahasa
atau komunikasi sosial
b.
Kegiatan yang
berhubungan dengan kesehatan
c.
kegiatan dalam
kehidupan sosial seperti bergaul dan berkelompok dengan orang lain
d.
Kegiatan
menggunakan waktu senggang dan menikmati rekreasi
e.
Usaha menjaga
kesegaran jasmani dan rohani
f.
Kegiatan yang
berhubungan dengan religius
7. Kegiatan yang berhubungan
dengan peran orang tua seperti membesarkan anak, memelihara kehidupan keluarga
yang harmonis.
8. Kegiatan praktis yang
bersifat vokasional atau keterampilan tertentu.
9. Melakukan pekerjaan sesuai
dengan bakat seseorang.
Disamping hal-hal tersebut diatas, perspektif ini juga
menyangkut desain kurikulum untuk memberi keterampilan sebagai persiapan untuk
bekerja (profesi). Oleh sebab itu, sebelum merancang isi kurikulum, para
perancang perlu terlebih dahulu menganalisis kemampuan apa yang perlu dimiliki
anak sehubungan dengan tugas atau profesi tertentu.
2. Perspektif Pembaharuan (the reformist perspective) Dalam perspektif ini, kurikulum dikembangkan untuk lebih meningkatkan kualitas masyarakat itu sendiri. Kurikulum reformis menghendaki peran serta masyarakat secara total dalam proses pendidikan. Pendidikan dalam perspektif ini harus berperan untuk mengubah tatanan sosial masyarakat.
2. Perspektif Pembaharuan (the reformist perspective) Dalam perspektif ini, kurikulum dikembangkan untuk lebih meningkatkan kualitas masyarakat itu sendiri. Kurikulum reformis menghendaki peran serta masyarakat secara total dalam proses pendidikan. Pendidikan dalam perspektif ini harus berperan untuk mengubah tatanan sosial masyarakat.
Menurut pandangan para reformis, dalam proses pembangunan
pendidikan sering digunakan untuk menindas masyarkat miskin untuk kepentingan
elit yang berkuasa atau untuk mempertahankan struktur sosial yang sudah ada.
Dengan demikian, masyarakat lemah a-an tetap berada dalam ketidakberdayaan.
Oleh sebab itu, menurut para reformis, pendidikan harus mampu mengubah keadaan
masyarakat itu. Baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal harus
mengabdikan diri demi tercapainya orde sosial baru berdasarkan pembagian
kekuasaan dan kekayaan yang lebih adil dan merata.
3. Perspektif Masa Depan
(the futurist perspective)
Perspektif masa depan sering dikaitkan dengan
kurikulum rekonstruksi sosial, yang menekankan kepada proses mengembangkan
hubungan antara kurikulum dan kehidupan sosial, politik, dan ekonomi
masyarakat. Model kurikulum ini lebih mengutamakan kepentingan sosial daripada
kepentingan individu. Setiap individu harus mampu mengenali berbagai
permasalahan yang ada di dalam masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan
yang sangat cepat. Dengan pemahaman tersebut, maka akan memungkinkan individu
dapat mengembangkan masyarakatnya sendiri.
Tujuan utama kurikulum dalam perspektif ini adalah
mempertemukan siswa dengan masalah-masalah yang dihadapi umat manusia. Ada 3
kriteria yang harus diperhatikan dalam proses mengimplementasikan kurikulum
ini. Ketiganya menurut pembelajaran nyata (real), berdasarkan pada tindakan
(action), dan mengandung nilai (values).Ketiga kriteria tersebut adalah sebagai
berikut:
a.
Siswa harus
memfokuskan pada satu aspek yang ada di dalam masyarakat yang dianggapnya perlu
untuk diubah.
b.
Siswa harus
melakukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi masyarakat itu.
c.
Tindakan siswa
harus didasarkan pada nilai (values), apakah tindakan itu patut dilaksanakan
atau tidak; apakah memerlukan kerja individual atau kelompok atau bahkan
keduanya.
D. Desain Kurikulum Berorientasi Pada Siswa
Asumsi yang mendasari desain ini adalah bahwa
pendidikan diselenggarakan untuk membantu anak didik, pendidikan tidak
boleh terlepas dari anak didik. Anak didik merupakan manusia yang unik karena
berdasarkan hasil penelitian bahwa anak adalah makhluk yang berkembang yang
memiliki minat dan bakat yang beragam. Dalam mendesain kurikulum yang
berorientasi pada siswa Thun 1995 menyarankan hal – hal sebagai berikut
:
1.
Kurikulum harus
sesuai dengan perkembangan anak
2.
Isi kurikulum
harus mencakup ketrampilan, pengetahuan.
3.
Anak di
tempatkan sebagai subyek belajar yang berusaha untuk belajar sendiri.
4.
Di usahakan apa
yang dipelajari siswa sesuai dengan minat, bakat dan tingkat perkembangan mereka.
Menurut
Francis Parker:
1.
Hakikat belajar
bagi siswa adalah apabila siswa belajar secara riil dari kehidupan mereka di
masyarakat
2.
Kurikulum harus
dimulai dari apa yang pernah dialami siswa seperti pengalaman dalam keluarga, lingkungan
fisik dan lingkungan sosial mereka, serta dari hal-hal yang ada di sekeliling
mereka
3.
Isi kurikulum
harus memuat sisi kehidupan siswa sebagai peserta didik
4.
Proses
pembelajaran bukan menghafal dan menguasai materi pelajaran seperti yang
dituliskan dalam buku teks, akan tetapi bagaimana anak belajar dalam
kehidupan nyata di masyarakat
5.
Proses
pembelajaran bukan hanya mengembangkan kemampuan intelektual dengan memahami
sejumlah teori dan fakta saja, akan tetapi bagaimana proses belajar itu dapat
megembangkan seluruh aspek kehidupan siswa.
b. Perspektif Psikologis (The Psychological
Curriculum Perspective)
Mengembangkan seluruh pribadi siswa sehingga dapat
membentuk manusia yang utuh. Kurikulum ini menekankan kepada adanya
hubugan emosional yang baik antara guru dengan siswa.Menekankan kepada
integrasi.Harus dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dan
utuh. Lebih ditekankan kepada proses belajar.Keberhasilan ditentukan oleh
perkembangan anak supaya menjadi manusia yang terbuka dan berdiri sendiri. Mengevaluasi
berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan. Memberikan kesempatan kepada
siswa untuk tumbuh berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
E. Desain Kurikulum Teknologi
Teori pendidikan berbasis teknologi pendidikan menjadi
sumber untuk pengembangan model kurikulum teknologis, yaitu model kurikulum
yang bertujuan memberikan penguasaan kompetensi bagi para peserta didik,
melalui berbagai teknologi baik metode pembelajaran atau media pembelajaran
sehingga peserta didik dapat menguasai keterampilan - keterampilan dasar
tertentu.Model desain kurikulum teknologi difokuskan kepada efektifitas
program, metode, dan bahan – bahan yang dianggap dapat mencapai tujuan.
Pengaruh Teknologi terhadap kurikulum dapat dilihat dari dua sisi :
1. Penerapan alat
hasil – hasil teknologi
Perencanaan yang sistematis dengan menggunakan media
atau alat dalam kegiatan pembelajaran. penggunaan tersebut untuk meningkatkan
efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Contoh Komputer, radio, film, video
2. Penerapan
teknologi sebagai sistem
Menekankan kepada penyusunan program
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem yang ditandai dengan
perumusan tujuan khusus sebagai tujuan tingkah laku yang harus dicapai. Karakteristik
kurikulum teknologi yaitu belajar dipandang sebagai proses respon terhadap
rangsangan, belajar diatur berdasarkan langkah - langkah tertentu dengan
sejumlah tugas yang harus dipelajari, dan siswa belajar individual, namun dalam
hal tertentu bisa kelompok. Menurut Mc Neil (1990) tujuan kurikulum teknologi
ditekankan kepada pencapaian tingkah laku yang dapat diukur, oleh karena itu
tujuan umum dijabarkan menjadi tujuan khusus yaitu disetiap mata pelajaran (
disiplin ilmu ).
Sebagaimana tujuan pembelajaran yang ingin dicapai,
maka organisasi bahan pelajaran dalam kurikulum teknologi memiliki ciri-ciri :
1.
Berpatokan
kepada rumusan tujuan
2.
Materi disusun
berjenjang
3.
Materi dimulai
dari yang sederhana sampai ke kompleks
Selanjutnya untuk efektifitas dan keberhasilan
implementasi kutikulum teknologi hendaklah memperhatikan prinsip – prinsip
sebagai berikut :
1.
Kesadaran kan
tujuan, artinya siswa perlu memahami bahwa pembelajaran diarahkan untuk
mencapai tujuan.
2.
Dalam
pembelajaran siswa diberi kesempatan mempraktikan kecakapan sesuai tujuan
3.
Siswa perlu
diberi tahu hasil yang telah dicapai.
KESIMPULANNYA:
Paradigma pendidikan
terus bergeser dengan bergulirnya era global dan era otonomi daerah. Hal ini
telah mempengaruhi berbagai aspek pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan. Kemampuan
manajemen dan profesionaliisme pengelola pendidikan mulai dipertanyakan
karena adanya indikator bahwa mutu pendidikan belum
meningkat secara signifikan. Sektor pendidikan merupakan salah satu faktor yang
cukup strategis dalam rangka pengelolaan sumber daya manusia, guna menghasilkan
sumber daya yang bermutu, agar siap menghadapi segala macam tantangan dalam
persaingan global. Dalam sistem pendidikan, sekolah merupakan ujung tombak dan
paling menentukan untuk mencapai keberhasilan tujuan yang diharapkan. Beberapa
indikator esensial yang sangat menentukan mutu sekolah antara lain: siswa,
kurikulum, sarana prasarana, tenaga kependidikan, pengelolaan atau
manajemen dan lingkungan. (Fuad Hasan, 1988).